Selasa, 12 Januari 2010

Mengungkit Pemberian

"Ada tiga golongan yang tidak bisa masuk surga; pertama, orang yang durhaka kepada kedua orang tua, kedua, peminum khamer dan ketiga, orang yang mengungkit-ungkit pemberian."

Yang dimasksud mengungkit-ungkit pemberian adalah orang yang telah memberikan sesuatu kepada seseorang, kemudian dalam kesempatan lain orang yang memberi merasa jengkel kepada orang
yang telah diberi tersebut, kemudian dia (yang memberi) mengungkit-ungkit kembali pemberiannya.

Tujuan dari mengungkit-ungkit pemberian itu adalah agar yang diberi ingat dan sadar bahwa dia pernah berhutang budi kepadanya, sehingga ia mau berbuat baik terhadapnya.
Mengungkit-ungkit pemberian merupakan perbuatan yang tercela dalam Islam. Allah SWT sendiri membeci perbuatan tersebut seperti dalam firman-Nya, "Wahai orang-orang yang beriman, janganjlah
kamu sekali-kali membatalkan sedekahmu dengan mengungkit-ungkit dan menyakitkan hati." (QS. Al Baqarah : 264)

mengungkit-ungkit pemberian selain merupakan perbuatan yang dibenci dalam Islam, ia juga menjadi penyebab seseorang masuk ke dalam neraka seperti disabdakan oleh Rasulullah SAW, "Ada tiga golongan
di hari kiamat dimana Allah tidak berbicara, tidak melihat dan tidak pula mensucikan mereka dan bahkan bagi mereka siksa yang pedih. Yakni orang yang menutupkan sarungnya hingga mata kaki, orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya,
dan orang yang menawarkan dagangannya dengan sumpah palsu." (HR. Muslim)

Dari penjelasan ayat dan hadis di atas, jelaslah bagi setiap muslim bahwa memberi dengan mengungkit-ungkit kembali termasuk perbuatan tercela yang dibenci oleh Allah SWT dan Rasul SAW. Selain itu, mengungkit-ungkit pemberian merupakan
perbuatan zalim yang akan menimbulkan permusuhan dan kebencian antara pemberi dan penerimanya, sebab yang menerima merasa tercoreng nama baiknya, sementara pemberinnya akan timbul rasa sombong kepada orang yang pernah diberinya.

Allah SWT akan menghilangkan pahala orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian seperti pesan Rasulullah SAW, "Jauhilah olehmu akan mengungkit-ungkit pemberian karena yang demikian itu dapat menggagalkan kesyukuran dan menghilangkan pahala." (HR.Muslim)

Jadi, memberilah dengan penuh keikhlasan. Jangan memberi karena ingin berharap bisa mendapatkan sesuatu seperti; jabatan, harta dan sebagainya. Wallahua'lam.

Nabi Palsu

Kehidupan di akhir jaman, seperti saat ini, penuh dengan fitnah dan kekacauan, kekufuran, kefasikan dan pembangkangan terhadap ajaran agama sangat marak, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Segeralah melakukan amal-amal kebajikan untuk menghadapi fitnah (yang dahsyatnya) bagaikan gelap gulita, dimana seseorang dipagi hari masih beriman manun disore harinya ia menjadi kafir, atau disore harinya ia masih sebagai mukmin namun di pagi harinya ia berubah menjadi kafir, menukar agamanya dengan materi duniawi”. (HR. Muslim)

Hari ini, ada sebagian orang yang mengklaim beragama Islam, namun tidak peduli terhadap ajaran-ajaran agamanya. Agama yang dianutnya tidak lagi dijadikan sebagai jalan untuk menempuh kehidupan fana ini, bahkan banyak yang menjual agamanya demi mendapatkan sesuap nasi, kedudukan, meraih jabatan, harta kekayaan, wanita dan seterusnya.

Di antara sekian fitnah yang nampak dan telah disebutkan oleh Nabi SAW sebagai bagian dari tanda-tanda kiamat, adalah munculnya dajjal-dajjal pendusta, yaitu orang-orang yang mengaku sebagai Nabi SAW atau Isa al-masih.

Fenomena ini sudah diberitakan oleh Rasulullah SAW, “Kiamat tidak akan terjadi sebelum muncul para dajjal pendusta yang hampir mencapai 30 orang, masing-masing mengaku bahwa dirinya adalah Rasulullah”. (Bukhari-Muslim)

Hari ini, kita bisa menyaksikan dimedia cetak maupun elektronik informasi tentang munculnya beberapa orang yang mengaku sebagai Nabi Muhammad SAW. Padahal, Rasul SAW telah bersabda, “…Dan tidak terjadi hari kiamat sampai bangsa-bangsa (suku-suku) dari umat-Ku menjadi musyrik dan sampai bangsa-bangsa (suku-suku) dari umatku menyembah berhala-berhala. Dan sesungguhnya akan ada pada umatku 30 pendusta, masing-masing mereka mengaku bahwa dirinya adalah Nabi, dan aku adalah penutup para nabi. Tidak ada nabi setelahku”. (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi)

Munculnya Nabi-Nabi palsu dan Isa al-masih palsu, sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah umat Islam, bahkan ia muncul sejak dini, sejak Nabi SAW masih hidup hingga sekarang.

Di antara Nabi palsu yang muncul di zaman Nabi SAW adalah; Al-Aswad al-`Anasiy, Thulaihah bin Khuwailid, Musailamah al Kazzab, Sajjah. Nabi palsu di masa dinasti Umawiyah dan Abbasiyah; al-Mukhtar, Bayan bin Sam`an, al-Mughirah bin Sa`ad al-`ajaliy, Abu Manshur al-`ajaliy.

Di Indonesia pun muncul Nabi palsu di antaranya, Lia Eden dan Ahmad Mosaddeq Al-Masih al-Mau`ud dengan al-Qiyadah al-Islamiyahnya. Padahal, Al-Qur’an dan hadis Nabi SAW secara tegas menyatakan, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab : 40). "Aku adalah penutup para Nabi, dan tidak ada Nabi setelahku”. (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi). Wallahua'lam

Meratapi Mayat

Menangisi salah seorang anggota keluarga yang meninggal dunia adalah suatu kewajaran. Sementara nihayah ialah meratapi orang yang meninggal dengan suara tangis yang berlebihan atau menampar-nampar pipi, mencakar muka, merobek-robek baju semata-mata karena tidak terima atas kehendak Allah SWT atas kematian salah seorang keluarganya.

Nihayah, masih sering kita jumpai di tengah kehidupan masyarakat. Perbuatan nihayah ini sangat dilarang dalam Islam. Banyak hadis Rasulullah SAW yang melarang perbuatan itu. Salah satu sabdanya, "Bukan termasuk dari golongan kami orang yang menampar-nampar pipinya, merobek-robek sakunya dan berdoa dengan cara jahiliyah." (HR. Al Bukhari)

Nihayah juga merupakan salah satu tanda kekufuran seorang hamba. Rasul SAW bersabda, "Dua tanda pada manusia yang dengannya mereka menjadi kufur yaitu cercaan pada keluarga dan meratapi mayat." (HR. Muslim)

Menangisi orang yang mati dengan melampaui batas kewajaran sehingga seolah-olah tidak menerima ketentuan Allah yang berlaku bagi setiap orang yang meninggal dunia adalah perbuatan yang dilarang. Namun jika sekedar menangis dan bersedih hati tidak termasuk perbuatan nihayah, sebab sedih dan tangis merupakan fitrah setiap manusia.

Rasulullah SAW pun pernah menangis ketika putra kesayangannya, Ibrahim wafat. Ketika ditanya mengapa menangis, Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh, mata ini dapat melinangkan air mata dan hati merasa sedih dan kami tak mengucapkan kecuali kata-kata yang diridhai Tuhan kami." (HR. Bukhari)

Ditinggal mati oleh orang yang kita cintai memang terasa begitu pedih. Tapi, siapa saja yang menerima ujian dari Allah (kematian anggota keluarga) itu dengan sabar, niscaya Allah SWT akan memberi pahala yang cukup kepadanya di akhirat kelak.

Rasulullah SAW bersabda, "Tiada satu pun musibah yang menimpa orang beriman kecuali Allah SWT akan menghapus dosanya meskipun hanya seujung duri mengenai dirinya." (HR. Muslim)

Begitu juga bagi orang tua yang ditinggal mati oleh anaknya, lalu ia tidak berbuat nihayah tapi justeru memuji Allah SWT, maka ia akan masuk surga. Nabi SAW bersabda, "Siapa saja dari umatku yang ditinggal mati oleh anaknya baik laki-laki atau perempuan sedang keadaan mereka keduanya itu belum baligh (dewasa), maka ia akan masuk surga." (HR. Ibnu Abbas)

Bahkan Allah SWT akan membuatkan rumah di dalam surga bagi orang tua yang sabar ketika buah hatinya dipanggil oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, "Bila anak seorang hamba Allah wafat, niscaya Allah berfirman kepada malaikat, "Kamu telah mencabut nyawa seorang anak hamba-Ku?" Malaikat menjawab, "Dia memuji-Mu, ya Allah dan minta dikembalikan kepada-Mu." Allah berfirman, "Dirikanlah rumah di surga untuk seorang hamba-Ku ini dan namailah rumah itu dengan "BAITUL HAMDI". (HR. At Tirmidzi, Ibnu Hibban). Wallahua'lam

Mencintai yang Lemah

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah ada seorang pengemis Yahudi buta. Hari demi hari bila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Namun demikian, setiap pagi juga Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad.

Rasulullah SAW melakukannya setiap hari hingga menjelang wafat. Setelah kewafatan Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.a. Beliau bertanya kepada anaknya, "Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.a menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayahanda engkau adalah seorang ahli sunnah,hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayahanda lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah Itu?", tanya Abu Bakar r.a.

”Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.a.

Ke esokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah kamu ?". Abu Bakar r.a menjawab, "Aku orang yang biasa". "Bukan!, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu.

”Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada.

Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a.

Lalu, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyantuni orang yang lemah, yang ada di sekitar kita?