Senin, 01 Maret 2010

Akhlak Mulia

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menghendaki Islam menjadi ajaran yang kekal, penutup ajaran-ajaran sebelumnya. Ia diperuntukkan bagi seluruh manusia dengan bermacam perbedaan yang ada pada mereka, baik waktu, tempat, warna kulit dan kebangsaan. Allah menjadikan kekhususan dan keistimewaan yang banyak sekali di dalam Islam, sempurna lagi menakjubkan. Senantiasa dan benar-benar sesuai dengan kondisi di setiap zaman dan tempat. Semua ini berkat karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala yang membimbing hamba-hamba-Nya menuju kebahagiaan dunia dan akherat, kehidupan yang aman dan tentram lahir-batin, demi mencapai hakekat kemuliaan hidup yang sempurna.

Telah kita ketahui bersama bahwa Islam mengatur dan meliputi segala aspek kehidupan manusia. Tidaklah ada suatu kebaikan melainkan Islam telah menyeru dan menganjurkan kepada pemeluknya untuk berpegang dan berakhlak dengannya. Sebaliknya, tidaklah ada suatu keburukan melainkan Islam telah memperingatkan bahayanya dan memerintahkan untuk menjauhinya. Dengan demikian kehidupan manusia menjadi teratur di bawah naungan aturan Ilahi, mendapatkan hasil keberuntungan dan kejayaan dalam kehidupannya, sebaliknya apabila menjauhinya maka kerugian dan kebinasaanlah yang akan didapatkan.

Akhlak yang mulia merupakan asas yang dipegang dalam agama Islam dalam rangka membina umat dan memperbaiki masyarakat. Hal itu dikarenakan bersih dan kokohnya bangunan masyarakat, serta tinggi dan mulianya kedudukan anggotanya tergantung pada sejauh mana mereka berpegang kepada akhlak yang mulia, sebagaimana pula jatuh dan rusaknya suatu masyarakat manakala mereka meninggalkan akhlak yang mulia. Nabi shollallahu 'alaihi wasallam telah mengejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari beliau dan menunjukkan kepada umatnya bagaimana berakhlak dengan akhlak yang terpuji. Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam merupakan suri-teladan bagi umatnya dalam segala aspek kehidupan. Bagaimana kemuliaan akhlak beliau sebagai seorang pemimpin, panglima perang, seorang bapak, suami, anak dan lainnya. Bukan suatu yang mustahil dan tidak mungkin seseorang mencontoh akhlak beliau.
Firman Allah, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21)

Hal ini digambarkan oleh salah seorang sahabat sekaligus pembantu beliau selama sepuluh tahun yaitu Anas bin Malik. Dari Anas bin Malik rodhiallahu 'anhu, katanya, "Aku pernah melayani Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau sama sekali tidak pernah mengatakan kepadaku, 'His!' (Kalimat yang mengandung hardikan) tidak pula pernah mengatakan kepadaku (karena sesuatu yang aku lakukan), 'Kenapa kamu kerjakan seperti itu?! Bukankan seharusnya yang kamu kerjakan seperti ini!'" (HR. Bukhari, Kitab Wasiat no: 2561)

Diriwayatkan juga darinya bahwa dia berkata, "Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam adalah seorang yang paling baik, dermawan, dan pemberani. Pernah pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suara yang sangat keras. Orang-orang kemudian mendatangi arah suara tersebut. (tetapi di perjalanan) mereka berjumpa dengan Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam yang baru saja pulang dari sumber suara tersebut. Ternyata beliau telah mendahului mereka mendatangi sumber suara tersebut. Pada waktu itu beliau menunggang kuda milik Abu Thalhah tanpa pelana. Di leher kuda itu terlihat sebilah pedang. Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam berkata, 'Kalian tidak perlu takut, Kalian tidak perlu takut.' Anas berkata, 'Kami melihat Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam secepat kilat, padahal kuda itu jalannya lambat.'" (HR. Bukhari, Kitabul-Hibbah: 2434)

Keutamaan Akhlak Mulia

1. Akhlak yang mulia merupakan bagian dari takwa. Tidak sempurna takwa seseorang kecuali dengannya. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali Imran: 133-134)

Di dalam ayat ini Allah 'Azza wa Jalla menerangkan bahwa berakhlak baik dalam pergaulan dengan sesama manusia termasuk dari sifat-sifat orang yang bertakwa.
2. Akhlak yang baik termasuk bagian dari keimanan, sebagaimana Sabda Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, "Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah, yang paling baik akhlaknya." (Hadist Shahih, lihat kitab Jami' Shahih: 1231, karya Albani)

Di sini dijelaskan bahwa seseorang yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.

3. Akhlak yang baik, dapat mengantarkan seseorang pada kedudukan orang-orang yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana sabda Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, "Sesungguhnya dengan akhlaknya yang baik seorang yang beriman mampu mencapai kedudukan orang yang selalu berpuasa dan shalat malam." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Maajah, dan dishahihkan Albani no: 1928)

4. Akhlak yang mulia memberatkan timbangan bagi pemiliknya pada hari kiamat, sebagaimana yang dijelaskan Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, "Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat diletakkan pada timbangan (hari Kiamat) daripada akhlak yang baik." (Lihat kitab Shahih Al-Jami': 5602, karya Albani)

5. Yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga adalah akhlak mulia, sebagaimana sabda Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, "Bahwasanya Rosulullah ditanya, 'Apakah yang paling banyak memasukkan manusia kedalam surga?' Beliau menjawab, 'Takwa kepada Allah dan Akhlak yang baik.'" (Kitab Riyadus Shalihin hal: 273)

6. Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik akhlaknya. Ini sebagaimana Hadits Abdullah bin Amr rodhiallahu 'anhu, katanya, "Ketika Muawiyah berkunjung ke Kufah, maka Abdullah bin Amr bercerita tentang Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam katanya, 'Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam tidak pernah melampaui batas dan tidak pernah berbuat perkara keji. Abdullah bin Amr rodhiallahu 'anhu juga berkata, Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda, "Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang paling baik budi pekertinya." (HR. Bukhari, Kitab Akhlak Terpuji no: 3295)

Ta'rif/Definisi Akhlak

Makna akhlak secara bahasa sebagaimana dijelaskan oleh Ahli ilmu adalah: gambaran yang tersembunyi dari seorang insan.

Manusia mempunyai dua gambaran:
1. Gambaran yang dhahir/lahiriah yaitu bentuk rupa dan jasad yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta'ala pada insan. Ini ada yang baik dan ada pula yang buruk, ada yang indah, ada yang jelek atau diantara keduanya sebagaimana yang telah diketahui.

2. Gambaran yang batin/tersembunyi, dan inilah yang dikatakan dengan akhlak. Ini pun ada yang baik dan ada juga yang buruk atau diantara keduanya. Maka akhlak adalah: gambaran yang tersembunyi pada seorang insan yamg merupakan tabiat pada dirinya. Akhlak mulia ada yang merupakan tabiat secara fitriyah, dengan makna bahwa seorang insan memang dari asalnya memiliki akhlak yang mulia, tidak dibuat-buat. Karena ada juga akhlak yang memang diusahakan untuk menjadi sifat seseorang. Oleh sebab itu Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Assyaj bin Qais, "Padamu ada dua akhlak yang Allah mencintai keduanya: lembut dan sabar." Dia berkata, "Wahai Rosulullah, apakah keduanya aku membuat-buatnya atau Allah yang mendatangkannya padaku?" Maka Nabi shollallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Allah-lah yang mendatangkannya padamu." (HR. Muslim, Kitab Iman)
Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa akhlak mulia ada yang merupakan pembawaan pada diri seseorang, atau bisa juga sesuatu yang diusahakan. Tetapi pembawaan lebih utama, karena akhlak ini tidak akan terlepas dari sifatnya dan tidak membutuhkan latihan dan usaha untuk mendapatkannya. Yang demikian itu adalah karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala bagi hambanya, tetapi tidak menghalangi bagi seseorang untuk berakhlak yang mulia dengan cara melatih diri dan berusaha untuk mendapatkan hal tersebut.

Macam-macam Akhlak

Banyak orang mengira bahwa akhlak yang baik hanya dalam hubungan manusia dengan sesama makhluk, tidak ada hubungannya dengan Al-Khaaliq (Sang pencipta), Allah Subhanahu wa Ta'ala. pemahaman ini pemahaman yang terbatas, karena akhlak yang baik berkaitan dengan makhluk juga berkaitan dengan Al-Khaaliq Subhanahu wa Ta'ala.

Di antara akhlaq kepada Allah:
1. Membenarkan kabar-berita yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ini artinya tidak boleh ada keraguan pada diri seseorang dalam membenarkan kabar yang datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena berita dari Allah Subhanahu wa Ta'ala didasarkan atas ilmu dan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah yang paling benar ucapannya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah." (QS. An-Nisa': 87)

2. Melaksanakan dan menerapkan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Maknanya adalah tidak menolak sesuatupun dari hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala. Barang siapa yang menolak hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala maka itu merupakan akhlak yang buruk kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik mengingkari, merendahkan hukum-hukumnya atau menyepelekan pengamalannya. Sikap-sikap tersebut bertentangan dengan akhlak yang mulia dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

3. Menerima takdir-Nya 'Azza wa Jalla dengan sabar dan ridha.
Yaitu menerima takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menimpa kita dengan ridha dan sabar serta menyadari bahwa dibalik ketetapan itu terkandung hikmah dan merupakan kehendak-Nya, maka wajib bagi kita untuk menerima dan bersyukur atasnya. Sebagaimana firman Allah, "Katakanlah, 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.'" (QS. At-Taubah: 51)

Berakhlak yang Mulia Dengan Sesama

Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Hasan Al-Bashry:
1. Mencegah diri untuk tidak mengganggu saudaranya, baik itu berkaitan dengan harta, jiwa ataupun kehormatan.Barang siapa yang mengganggu saudaranya dengan gangguan apapun tidak dikatakan sebagai orang yang ber-akhlak mulia.
Diriwayatkan daripada Abdullah bin Amru bin al-Ash rodhiallahu 'anhu katanya: Seseorang bertanya kepada Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam, tentang sifat orang Islam yang paling baik. Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Seseorang yang orang-orang Islam yang lain selamat dari kejahatan lidah dan tangannya." (HR. Muslim, Kitabul Iman: 57)

2. Bersikap baik dan pemurah.
Ini tidak hanya berkaitan dengan harta saja tetapi bisa juga dengan kedudukan, jiwa ataupun segala sesuatu yang bermanfaat bagi saudaranya. Karenanya janganlah bakhil (kikir) untuk menolong saudaranya. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah bahwa Nabi shollallahu 'alaihi wasallam telah bersabda, "Pada setiap hari setiap sendi manusia harus ditunaikan sedekahnya ketika matahari terbit. Seterusnya baginda bersabda, 'Berlaku adil di antara dua orang manusia adalah sedekah, membantu seseorang naik ke atas binatang tunggangannya atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas belakang binatang tunggangannya juga adalah sedekah.' Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda lagi, 'Perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju shalat adalah sedekah dan membuang sesuatu yang berbahaya di jalan adalah sedekah.'" (HR. Bukhari, Kitab Perdamaian: 2508)

Jika ada yang berbuat buruk kepadamu atau menzhalimimu maka maafkanlah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali Imran: 133 – 134). Semua yang disebutkan adalah termasuk dari akhlak yang mulia.

3. Berwajah cerah, sebagaimana sabda Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, "Janganlah meremehkan perbuatan yang baik sekecil apapun, walau hanya bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri." (HR. Muslim, Kitabul Birr)
Wajah berseri-seri (cerah) mendatangkan kebahagian terhadap orang yang bertemu dengan kita, menimbulkan rasa kasih-sayang sesama saudara, dan melapangkan dada. Berbeda dengan orang yang selalu cemberut wajahnya, orang-orang akan meninggalkannya karena tidak merasa nyaman duduk bersamanaya.
Tiga perkara di atas berkaitan dengan akhlak mulia di antara sesama hamba.

Kiat memiliki akhlak yang mulia

Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian terdahulu, bahwa akhlak yang baik bisa merupakan pembawaan, juga bisa sesuatu yang diusahakan, yaitu seseorang melatih dirinya untuk berakhlak yang mulia.

Bagaimana kiat untuk mendapatkannya, berikut penjelasannya:

1. Mengkaji Al-Qur'an dan As-Sunnah, melihat dalil-dalil yang menunjukkan akhlak mulia. Maka seorang yang beriman jika melihat dalil-dalil yang memuji akhlak yang mulia akan tergerak untuk mengerjakannya.

2. Mengikuti Nabi, karena beliaulah yang paling utama dalam merealisasikan akhlak yang mulia ini, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4)
Dan beliau adalah contoh yang utama dalam perkara ini, sebagaimana firman Allah, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21)

Maka wajib bagi seorang muslim untuk mempelajari biografi beliau shollallahu 'alaihi wasallam dalam segala aspek kehidupannya, bagaimana berakhlak dengan Rabb-Nya Subhanahu wa Ta'ala, dengan sahabatnya, dengan keluarganya dan dengan sesama manusia, yang lain.

3. Bergaul dengan orang-orang Shalih yang bisa dipercaya agama dan ilmunya.
Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan daripada Abu Musa rodhiallahu 'anhu katanya Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan berkawan dengan orang yang sholeh dan berkawan dengan orang yang jahat adalah seperti perumpamaan (berteman dengan) penjual minyak wangi dan tukang besi. (berkawan dengan) penjual minyak wangi, mungkin ia akan memberi minyaknya kepadamu atau mungkin kamu akan membeli darinya atau akan mendapat bau harumnya. (Berbeda manakala berteman dengan) tukang besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu atau kamu akan mendapat bau yang tidak enak." (HR. Bukhari, Kitab Jual Beli: 1959)

Maka wajib bagi kita untuk berteman dengan orang yang berakhlak mulia, jauh dari akhlak yang buruk, sehingga mampu menolong kita untuk memperbaiki akhlak kita.

4. Merenungkan akibat yang ditimbulkan dari akhlak yang buruk.
Akhlak yang buruk, tercela, akan menjadikan orang lain menjauhinya dan disebut dengan sebutan yang buruk. Maka jika seseorang menyadari akibat buruk ini semua, tentu dia akan menjauhinya.

Inilah beberapa perkara yang berkaitan dengan akhlak yang mulia. Jika kita lihat keadaan kaum muslimin sekarang ini, sudah semakin jauh dari ajaran-ajaran Islam, terutama dalam praktek kehidupan mereka sehari-hari, dalam ibadah demikian pula akhlak. Karenanya, sudah waktunya bagi kita untuk kembali kepada ajaran-ajaran Islam yang lurus ini, kita lihat bagaimana generasi terdahulu mendapatkan kejayaan dan kesuksesan, tidak lain karena kuatnya mereka dalam memegang agamanya, menerapkan Al-Qur'an dan Sunnah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang berpegang kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaf Ummah (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in), lahir maupun batin. Semoga Allah Mewafatkan kita di atas Islam dan Sunnah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjaga kita di dunia dan akherat. Tidak menyimpangkan hati-hati kita setelah melimpahkan hidayat-Nya kepada kita. Membersihkan hati-hati kita dari segala maksiat dan penyakit hati yang merusak kemurniannya, sesunggungnya Allah Maha berkuasa atas segala-galanya.

Referensi:

1. Qawaid wa Fawaid min Al-Arbain An-Nawawiyah, karya Nazhim Mohammad Sulthan;
cet. Ke-2. 1410; Dar-Al Hijrah, Riyadh, Kerajaan Saudi Arabia.
2. Makarimul Akhlaq, karya Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah; cet. Ke-1. 1313; Dar-
Al Khair, Beirut, Lebanon.
3. Kitabul Ilmi, Muhammad ibn Shaalih ibn Al-Utsaimin; Dar-At Tsurayya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Selama anda membaca tulisan dalam blog ini, maka silahkan komentari.