Jumat, 05 Maret 2010

Iman dan Optimisme

Apakah yang Anda rasakan ketika musibah menyambangi kehidupan kita? Yang pasti, rasa derita, sengsara, dan duka lara akan membalut sukma. Hal ini manusiawi. Namun, yang berbahaya apabila ujian dan cobaan Ilahi tersebut melahirkan benalu pesimisme dan mencabut akar optimisme dari relung diri.

Orang beriman selalu optimistis dalam hidup. Nabi Yaqub AS berpesan kepada anak-anaknya, sebagaimana termaktub dalam Alquran, ''... janganlah kalian berputus asa dari kasih Allah, sebab sesungguhnya tidaklah berputus asa dari kasih Allah kecuali kaum yang kafir.'' (QS Yusuf [12]: 87).

Setiap orang beriman yakin bahwa Allah selalu menyertainya. ''Dia (Allah) beserta kamu di mana pun kamu berada, dan Allah Mahateliti akan segala sesuatu yang kamu kerjakan.'' (QS Alhadid [57]: 4). Karena itu, dengan sikap menyandarkan diri (tawakal) kepada Allah SWT, orang yang beriman percaya dia tidak mengarungi ganasnya samudra hidup ini sendirian. Cukuplah Allah SWT baginya, karena Allah SWT adalah sebaik-baik alwakil, tempat bersandar.

Iman menghasilkan harapan. Tidak adanya harapan adalah indikator kosongnya ruang jiwa dari iman, tidak percaya kepada Allah SWT.

Harapan kepada Allah SWT adalah konsekuensi logis dari kebiasan orang yang beriman berpikir positif kepada Allah SWT. Harus diakui, setiap kita dirundung malang, ada dua pilihan: Berpikir positif (husnudzan) atau berpikir negatif (su'udzan) kepada Allah SWT.

Sayangnya, yang sering terbit dalam fajar hati saat kita tertimpa penderitaan adalah pikiran negatif kepada Allah SWT. Kita kadang kehilangan perspektif kasih Allah SWT dan hikmah di balik kehendak-Nya.

Padahal, dalam hadis qudsi yang sangat populer disebutkan, ''Ana 'inda zhanni 'abdi bi (Aku [Allah] sesuai dengan perkiraan hamba-Ku tentang-Ku).'' Pandangan negatif dan pesimistis kepada Allah SWT adalah pangkal putus harapan kepada-Nya. Sebaliknya, pikiran positif dan optimistis kepada Allah SWT adalah akar tumbuhnya harapan kepada-Nya.

Dengan optimisme yang lahir dari keimanan kepada Allah SWT, kita dapat mulai bangkit untuk meneliti asal-muasal, penyebab segala bencana yang menerpa, sekaligus mencari solusi pencegahannya. Karena itu, ruh kehidupan orang yang beriman adalah iman kepada kepada Allah SWT. Iman itulah yang memompakan optimisme dalam menghadapi segenap tantangan hidup. Hidup tanpa iman laksana tubuh tanpa jiwa. Wallahu a'lam bish-shawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Selama anda membaca tulisan dalam blog ini, maka silahkan komentari.