Selasa, 23 Februari 2010

Meraih Khusnul Khotimah

Khusnul khatimah adalah akhir kehidupan yang baik yang menjadi dambaan setiap manusia (islam). Namun untuk meraihnya ternyata tidak mudah. Hal ini karena manusia tidak diberi tahu oleh Allah SWT kapan kematian itu menjemputnya. Allah SWT berfirman tentang apa yang tidak dapat diketahui oleh manusia secara mutlaq: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.sesungguhnya allah maha mengetahui lagi maha mengenal. (Qs. 31/luqman :34).


Memang, meski manusia diciptakan oleh allah swt sebagai makhluk yang paling mulia, tetapi tidak kemudian mereka diberi oleh allah segalanya. dalam hal ilmu, manusia diberi hanya sedikit, sebagaimana firmannya: “…dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Qs. 17/al-Isra’ :85).

Dari penjelasan dua ayat tersebut di atas, dapat kita petik pelajaran bahwa manusia tidak diberi tahu kapan datangnya hari kiamat, baik kiamat shughra (kematian seseorang) maupun kiamat kubra (hancurnya alam semesta). Allah jualah yang menurunkan air hijan, sehingga manusia juga tidak diberi tahu di belahan bumi man hujan itu diturunkan. manusia juga tidak diberi tahu apa yang ada dalam rahim seorang wanita secara pasti. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.

Bahkan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. hanya allah sajalah yang maha mengetahui lagi maha mengenal. selanjutnya pada potongan ayat yang kedua tersebut Allah menjelaskan bahwa manusia setinggi apapun kedudukannya, sabanyak apapun titel yang dimiliki, tetaplah sedikit ilmu yang dimiliki dibanding dengan keagungan allah SWT.

Berkait dengan akhir kehidupan, manusia juga tidak diberi pengetahuan kapan ia meninggal, di belahan bumi sebelah mana, dan dalam keadaan apa kematian kita nanti.

Kematian : Misteri Dua Kehidupan
Kiranya bagi kita yang sudah haji sekalipun tidak boleh berkata bahwa pasti kita nanti apabila telah mati otomatis masuk surga dengan beralasan bahwa: “haji mabrur itu tiada balasannya kecuali surga”.

Mengapa demikian? jawabnya adalah, karena kematian adalah sebuah misteri. ketidak tahuan kita tentang waktu kematian adalah sesuatu yang absolute. kita pun tidak pernah mengetahui bagaimana epilog daur kehidupan ini; husnul khatimah (pengakhiran yang baik) ataukah su’ul khatimah (pengakhiran yang buruk). kita hanya dapat berharap dan berdo’a yang terbaik sebagaimana kita mohon perlindungan kepada Allah SWT dari akhir kehidupan yang buruk.

Banyak kita jumpai contoh bahwa ternyata ada orang yang sepintas hidupnya baik, tetapi mengakhiri hidupnya tidak baik; ada yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri melalui gantung diri, minum racun dan cara lain yang tidak terpuji.

Ada sebuah kisah, dalam suatu peperangan bersama dengan rasulullah saw, kata Sahl Ibn Sa’ad al-Sa’idy, seseorang dari kaum muslimin membunuh banyak tentara musuh (orang-orang kafir). para sahabatpun terkagum-kagum dengan prestasi yang dia miliki. uniknya nabi saw mengabaikan kekaguman para sahabat tersebut dan bersabda, “adapaun orang itu, maka ia termasuk penghuni neraka”. mereka semua tersentak. sebagian dari mereka berkomentar, “lalu siapa di antara kita yang pantas menjadi ahli surga, jika orang tadi masuk neraka? tidak lama kemudian seorang diantara para sahabat memberi kesaksian bahwa sosok yang dikagumi mereka ternyata bunuh diri. sejatinya ia belum mati, hanya terluka. namun karena ia hendak segera mati (sebagai syahid) lalu ia tancapkan pedangnya ke tanah dan ujung tajamnya ia tancapkan di dada. “aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah”, sumpahnya di hadapan Nabi SAW. ‘ada apa”? Tanya Nabi SAW. “Tentang orang yang baru saja engkau tegaskan sebagai penghuni neraka wahai Rasulullah”, jawabnya. semua sahabatpun melotot, terheran.

Lalu Rasulullah SAW bersabda:“Sesungguhnya seseorang itu (dalam pandangan manusia) melakukan perbuatan ahli neraka, sedangkan ia adalah penghuni surga. dan adakalanya seseorang itu (dalam pandangan manusia) melakukan perbuatan ahli surga, padahal ia adalah penghuni neraka. dan sesungguhnya (ukuran) semua amal perbuatan itu ialah penutupannya”.

Ikhtiar Meraih Husnul Khatimah

Pesan Al-Qur’an: “ dan ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. (ibrahim berkata):”Hai anak-anakku! sesungguhnya allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama islam”. (QS. 2/al-baqarah :132)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada allah sebenar-benar taqwa kepada-nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam. (Qs. 3/ali-’imran :102)
“Dan sembahlah rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (Qs. 15/al-hijr :99).

Anas bin malik ra meriwayatkan dari rasulullah SAW: “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, ia diminta untuk melakukan suatu perbuatan. Beliau ditanya, ‘Bagaimana ia diminta melakukannya wahai rasulullah’? rasulullah bersabda: ‘Allah menganugerahkan taufiqnya kepadanya untuk melakukan amal shalih sebelum ia meninggal dunia.” (HR. At-Tirmidzi).

Berikut beberapa ikhtiar dan amal yang insyaallah semakin mendekatkan kita kepada akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah).

1. Memperbanyak Do’a
Untuk dapat menjalani kehidupan yang penuh dengan liku-liku diperlukan keteguhan hati untuk istiqomah pada agama Allah SWT. Sementara hati diilustrasikan sebagai sesuatu yang berada diantara dua jari yang dapat digerakkan sekehendaknya. rasulullah sering berdo’a dengan do’a di bawah ini.

“Syahr bin Hausyab ra mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah, ‘Wahai ibu orang-orang beriman, do’a apa yang selalu diucapkan Rasulullah SAW saat berada di sampingmu? ia menjawab: ‘Do’a yang banyak diucapkan ialah, “(Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku berpegang pada agamamu). Beliau bersabda, ‘Wahai ummu salamah, tidak ada seorang manusia pun, kecuali hatinya berada antara dua jari tuhan yang Maha Rahman. Maka siapa saja yang Dia kehendaki, Dia luruskan, dan siapa saja Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan”. (HR. At-Tirmidzi).

Setelah sahabat Mu’adz bin Jabal mendengan keterangan ini, dia membaca ayat: (Mereka berdo’a): ”Ya Rabb kami, janganlah engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi engkau; karena sesungguhnya engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (Qs. 3/ali-’imran :8).

2. Al-Khauf (Rasa Takut) kepada Allah SWT dari akhir kehidupan yang buruk.
RASUlullah Saw bersabda: “Barangsiapa takut akan serangan musuh di akhir malam maka ia segera malakukan perjalanan di awalnya. barangsiapa yang melakukan perjalanan awal malam maka ia akan sampai pada tujuan. ketahuilah sesungguhnya dagangan allah itu teramat mahal, (dagangan Allah itu adalah surga)”. (HR. At-Turmudzi).

3. Taubat dan mengiringinya dengan amal shalih
Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang bertaubat dari dosanya bagaikan orang yang tak berdosa”. (HR. Ibnu Majah).

4. Tidak panjang angan-angan
Rasulullah SAW bersabda, “Bersegeralah beramal menghadapi tujuh perkara. tiadalah yang kalian tunggu melainkan kefakiran yang membuat lupa; kekayaan yang menjadikan sewenang-wenang; sakit yang merusak; kertaan yang membinasakan; kematian yang menyedihkan; dajjal, maka ia adalah seburuk-buruk perkara ghaib yang ditunggu; ataukah hari kiamat, maka itulah yang paling dahsyat dan paling getir”. (HR.At-Tirmidzi).

5. Benci terhadap maksiat dan menjauhinya
Perbuatan maksiat menjadikan hati semakin kotor dan berkarat. hati semacam itu tidak akan pernah memancarkan hidayah allah swt.dalam hal ini rasulullah saw bersabda: “Melakukan maksiyat terus menerus mengantarkan pelakunya kepada su’ul khatimah. rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa meninggal dalam suatu keadaan (tertentu), niscaya Allah SWT akan membangkitkan (di hari kiamat) dalam keadaan aeperti itu. (HR. Ahmad)

6. Sabar menghadapi cobaan dan musibah serta berbaik sangka (husnu dhan)kepada Allah

7. Menyadari bahwa kehidupan dunia amatlah pendek, sementara akherat dengan segala kenikmatannya adalah kekal. allah swt berfirman: “Tetapi kamu (orang-orang) kafir memilih kehidupan duniawi. sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (Qs. 87/al-a’la : 16 - 17).
Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh perumpamaan dunia di akherat ibarat seseorang di antara kamu mencelupkan tangannya ke laut lalu diangkat, maka hendaklah ia perhatikan dengan apa tangannya itu kembali?” (HR. Ibnu Majah).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Selama anda membaca tulisan dalam blog ini, maka silahkan komentari.